Menjelajahi Gunung Lembu, Purwakarta

gunung lembu jaliluhur purwakarta

Gunung – Gunung Pagar Waduk Jatiluhur

Menatap keindahan Waduk Jatiluhur dari ketinggian dikala mentari terbit sungguh menggugah jiwa. Menikmati harmoni lampu keramba apung di waduk dan kerlipan bintang-gemintang di langit malam menggelora. Selama ini wisatawan dan penjelajah lebih banyak mengenal Jatiluhur dari tepian waduknya saja, padahal dari ketinggian punya pemandangan tersendiri.

Nyatanya, selain wisata di tepian waduk terdapat beberapa gunung yang bisa didaki untuk menikmati panorama Kawasan Jatiluhur. Mata akan dimanjakan pemandangan Waduk Jatiluhur dari Gunung Lembu (655 mdpl), Gunung Bongkok (920 mdpl), dan Gunung Parang (915 mdpl).

GUNUNG LEMBU

gunung lembu purwakarta
gunung lembu terlihat seolah-olah seperti lembu sedang tidur

Gunung Lembu memiliki satu jalur pendakian resmi, yaitu dari arah selatan, Pos Pendakian Kampung Panunggal. Lokasinya persis di seberang Kantor Desa Panyindangan, Sukatani, Purwakarta. Akses ke lokasi bisa melewati beberapa rute, yaitu dari arah Tol Cipularang keluar tol Ciganea-Purwakarta, belok kanan ke arah jalan raya Sindangkasih tinggal mengikuti jalan dan petunjuk arah sampai ke Desa Panyindangan. Jaraknya sekitar 18 km dengan waktu tempuh 30 menit.

Pencapaian dari Bandung bisa melewati Plered ke arah Cikakak dan belok kanan melewati Gunung Bongkok dan Parang, Kampung Cihuni, Desa Sukamulya. Jaraknya 17 km dengan waktu tempuh 45 menit menggunakan mobil. belum ada kendaraan umum menuju Pos awal pendakian, kalaupun ada hanya sampai ke Kampung Cihuni, Tebing Parang. Untuk lebih amannya lebih baik menggunakan mobil carteran atau ojek.

Pendakian Gunung Lembu

Pendaki bisa melapor dan mengisi buku tamu, dengan retribusi Rp 10.000,- perorang. Pengelola Gunung Lembu selalu menyambut pendaki dengan ramah. Di bangunan beton pos pendaftaran petugas akan memberi pendaki selembar peta tematik rute pendakian.

Dari Pos, Pendaki bisa langsung memasuki gapura lalu melewati hutan pinus nan rindang. Tanjakan dengan kemiringan 45 derajat menyambut setelah berjalan 200 meter. Perjalanan terus menanjak melewati Punggungan Selatan Gunung Lembu. Tanah liat licin bisa membuat pendaki terpeleset. Di beberapa tanjakan yang sangat licin, pengelola sudah menyediakan rotan untuk pegangan. Panjangnya mencapai 10-15 meter.

Tantangan pertama pendakian berakhir di Pos 1, di sebuah dataran yang cukup luas. Sudah ada warung dan gazeebo untuk beristirahat. Es Kelapa muda dan jeruk sungguh menggoda untuk melepas dahaga sembari menikmati lanscape Waduk Jatiluhur dan Perbukitan nan anggun berlapis-lapis.

POS 1 – Mengasah Adrenalin

Dari Pos 1, pendaki bisa terus melanjutkan perjalanan menuju Pos 2. Tanjakannya relatif lebih mudah. Namun harus selalu hati-hati. Beberapa tempat jalannya sempit, dengan jurang menganga dikiri dan kanan jalan. Selang 20 menit, jalan datar menyambut, ditandai Makam Keramat Mbah Jongrang Kalapitung.

Dari makam, pendaki dihadapakan lagi dengan tanjakan batu dengan kemiringan sampai 60°. Di beberapa tempat batu-batu pijakan bahkan ada yang sudah ambrol. Tantangan seperti ini akan terus ditemui sampai Puncak 2 yang ditandai dengan Petilasan Mbah Raden Suryakencana.

PUNCAK 2 – Camping Area

Selepas Puncak 2 terdapat area perkemahan. Beberapa pendaki sudah mendirikan tenda dan terlihat melakukan aktivitas memasak ataupun bersantai menikmati semilir angin nan sejuk. Puncak Lembu ada di sebelah Utara, kurang lebih 5 menit perjalanan dari perkemahan. Untuk menikmati pemandangan Waduk Jatiluhur, pendaki bisa menuju Batu Lembu, 10 menit perjalanan dari Puncak Utama. Tebing batuan yang terlihat menjorok keluar seperti punuk sapi yang sedang duduk, membuat warga menamakan tempat itu Batu Lembu.

Adrenalin bisa terpacu tatkala berdiri di dataran Batu Lembu yang berada di bibir jurang dengan kedalaman hampir 200 meter. Batu Lembu tidak terlalu luas, dengan ukuran 4×6 meter. Memang mengerikan, namun disitulah daya tarik gunung Lembu. Dengan total jarak pendakian 2,1 km dan waktu tempuh rata-rata 2 jam, pemandangan dari Batu Lembu dapat membayar usaha pendakian yang dilakukan.

BIVAK DI BATU LEMBU

Selain di area perkemahan, Pendaki bisa membuat kemah dan bivak di tepian Batu Lembu, dengan kapasitas 2 tenda atau bivak. Pendaki tak perlu cemas kekurangan makanan. Di tepian Batu Lembu sudah ada satu warung warga. Berbagai macam minuman, kopi hangat, makanan, gorengan, dan rokok, tersedia di warung. Harganya pun relatif murah, tidak terlalu jauh dibandingkan warung di desa kaki gunung.

Keberadaan Kami di Puncak Lembu sudah dinanti sang “penunggu gunung”. Beberapa ekor monyet datang silih berganti mengintip. Malu-malu mendekat, mata jelalatan. Sikap waspada bak seradadu mengintai keberadaan musuh, siap memangsa.

Malam menjelang, hawa dingin mulai menusuk tulang. Dari Batu Lembu pemandangan lampu-lampu Waduk Jatiluhur dan Purwakarta terlihat gemerlap. Apalagi jika membawa kamera DSLR yang dilengkapi tripod, pendaki bisa memotret pergerakan Galaksi Bimasakti dengan puas. Bivak didirikan, kayu dicari, api unggun dinyalakan. Malam menjelang Kami pun mulai masak dan makan malam.

SERANGAN “PENUNGGU GUNUNG”

Tepat setelah makan malam, Kami berniat melakukan komunikasi ke Basecamp tim Pemanjatan Tebing Parang. Satu set perangkat radio SSB (single side ban) telah terpasang. Receiver, aki, dan antena kabel terbentang sepanjang 14 m. Tapi ada satu alat yang hilang tak tau rimbanya. Dimana microphone-nya? dicari-cari dalam keril dan sekitar bivak.

Microphone yang dicari tidak ditemukan. Padahal sebelumnya sudah diatur sedemikian rupa dan coba cek modulasi (tersambung atau tidak ke tujuan). Wah… dimana microphonenya?. Dikala Kami masih fokus mencari, Ibu Warung di Batu Lembu menanyakan pada Kami apakah ada sesuatu yang hilang diambil monyet?, Kami bilang tak ada, cuma tadi sekantong abon sempat dilarikan monyet, itupun dibuang lagi sama monyetnya karena cepat Kami ketahui. Kami kembali ke aktivitas camp, membakar api unggun. Tak berselang lama, terdengar lagi sahutan Ibu Warung, menyampaikan tadi anaknya sempat melihat monyet mengambil sesuatu seperti kabel laptop.

Kecurigaan mulai datang, jangan-jangan itulah yang Kami cari-cari. Berdasar petunjuk Ibu Warung yang katanya kabel itu ditinggal monyet diatas pohon, Kami melirik kearah bawah daerah bivak. Menggunakan senter telepon genggam, akhirnya microphone terlihat tersangkut di dahan pohon di lerengan gunung. Andre langsung memanjat pohon dan Ucil bak detektif kawakan memotret TKP.

Microphone didapat, dipasangkan ke Radio SSB dan Kami akhirnya bisa melakukan komunikasi ke Basecamp Tim Pemanjatan di Tebing Parang. Monyet… monyet… bisa aja ngerjain orang. Sepertinya nih monyet dendam pada Kami, abon gak didapat, eh… malah balik ngerjain dengan nyembunyiin microphone.

Pengunjung yang mendaki dan menginap di Gunung Lembu disarankan jangan lengah, selalu berhati-hati dengan monyet. Awasi barang-barang kecil dan simpan didalam tas setelah dipakai. Ingat, terkadang kejahatan itu bukan hanya didasari niat pelakunya, tapi juga karena pasukan sang ekor panjang, monyet-nya Gunung Lembu” punya kesempatan.

Ditengah malam, awan-awan yang menutupi langit mulai hilang. Bintang-gemintang berkerlap-kerlip di langit nan kelam. Dengan menggunakan kamera DSLR dan bantuan tripod, Galaksi Bimasakti terpotret indah. Eksotis !

LEGENDA MASA LALU

Menurut legenda, Wilayah Gunung Parang, Bongkok, dan Lembu dulunya merupakan tempat para leluhur berlatih kanuragan. Tersebutlah Ki Jongrang Kalapitung yang mau memancing ikan ke Sungai Citarum. Dengan postur tubuh yang sangat besar, Ki Jongrang berdiri dengan salah satu kaki di Gunung Parang dan kaki lainnya di Gunung Bongkok. Ikan didapat, naamun kailnya tersangkut sesuatu yang sangat berat. Ki Jongrang menariknya dengan kuat, tapi tak berhasil.

Ki Jongrang pun mengerahkan kesaktiannya, terus menarik mata kailnya, tetap saja tersangkut. Ditarik lagi, benda itu bisa diangkat. Terus dan terus terangkat, sampai menjadi gundukan batu yang sangat besar di tepian Citarum. Gundukan itu saat ini dikenal dengan nama Gunung Lembu. Sedangkan bentukan jejak kaki Ki Jongrang yang menapaki Gunung Parang bisa dijumpai di Puncak Tebing Parang Tower Dua.

Untuk menghormati Ki Jongrang, masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Lembu selalu menjaga petilasannya yang berada persis di jalur pendakian menuju Puncak Lembu. Selain itu masyarakat tidak berani berkata kotor disaat memasuki Kawasan Gunung Lembu sebab takut terjadi bala musibah. Itupula sebabnya di pos pendakian, petugas mewanti-wanti pendaki untuk tidak berbicara kotor dan membuang sampah sembarangan. ***

 

Penulis: Andre Febrima

Fotografer : Faudzil “Ucil” Irfan S.

 

2 thoughts on “Menjelajahi Gunung Lembu, Purwakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *