TEBING PARANG, VIA FERRATA BADEGA DAN KAMPUNG CIHUNI

tebing parang via ferrata

Tebing Parang

Apa yang terbersit dari pikiran pembaca dikala mendengar Tebing Parang? Ya. Tebing Parang adalah “sarangnya pemanjat tebing”. Sarana penyalur adrenaline bagi kawula penggiat alam Nusantara.

 

Nama Tebing Parang yang merupakan sisi Timur Laut dari Gunung Parang sudah tersohor ke seantaro dunia sebagai tebing andesit tertinggi di Benua Asia, sebagai kawah candradimuka dan cikal bakal lahirnya pemanjat tebing di Indonesia.

  Gunung Parang memiliki tiga puncak yang berbeda, yaitu Tower I (300 meter), Tower II (400 meter), dan Tower III (350 meter). Setiap puncak memiliki karakteristik yang berbeda sebagai jalur panjat tebing dan pendakian.    
Gunung Tebing Parang Via Ferrata dan Kampung Cihuni
Pemanjatan Tower 2 Tebing Parang
Tower I dan II adalah kenangan tersendiri bagi para pemanjat tebing, dengan tingkat kesulitan yang membutuhkan teknik artificial climbing, memanjat dengan bantuan pengaman tambahan berupa mur yang di bor manual ke dinding tebing.   Biasanya memerlukan 10 – 14 pitch (segmen pengaman) hingga mencapai puncak selama 3 sampai 5 hari pemanjatan. Untuk bentangan tali bisa menghabiskan 350 – 500 meter tali statis dan dinamis.  

Via Ferrata Tebing Parang

Tower III menjadi primadona baru saat ini, dimana wisatawan umum pun bisa lebih gampang memanjat tebing Tower III melalui tangga-tangga besi yang dibor ke dinding batu andesit Tower III, seperti jalur Via Ferrata yang sudah banyak di luar negeri.  
Gunung Tebing Parang Via Ferrata dan Kampung Cihuni
Jalur Via Ferrata Tebing Parang Tower III
Adalah Badega Gunung Parang yang menginisiasi konsep wisata alam berbasis konservasi. Berlokasi di Kampung Cihuni, pas di kaki Tower III Gunung Parang. Wisatawan bisa melakukan Fun Climbing Via Ferrata – memanjat tangga di dinding tebing hingga ketinggian 300 meter, menjelajah hutan Gunung Parang, merasakan kehidupan Kampung dan ikut pelatihan budaya.  

Kampung Cihuni

Gunung Tebing Parang Via Ferrata dan Kampung Cihuni
Waduk Jatiluhur dikala mentari terbit
Pemanjatan Tebing Tower I, II, dan III Tebing Parang dapat dilakukan dari Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Sebuah kampung yang terletak di kaki Gunung Parang dan berjarak 5 km dari Waduk Jatiluhur.   Warga Kampung Cihuni sudah familiar dengan panjat tebing. kalangan berumur seperti Pak Hasan (Ketua RW 03 Cihuni, 68 tahun) dan Pak Jae (lelaki tertua Cihuni, 74 tahun) menjadi saksi hidup legenda pemanjat yang terlahir dari Parang, dan yang muda pun ikut menjajal kemampuan panjat tebing di tanah kelahirannya sendiri. Salah seorang pemuda Cihuni itu bernama Miftah, tersohor sebagai “manusia cicak dari Tebing Parang”.  
Gunung Tebing Parang Via Ferrata dan Kampung Cihuni

Asal usul Nama Kampung Cihuni

Nama Kampung Cihuni berasal dari legenda pohon huni yang tumbuh sangat besar di lokasi Kampung Cihuni sekarang. Saking besarnya, pohon itu dapat meneduhi kampung. Berumur ratusan tahun dengan buah yang sangat lebat. Suatu ketika pada zaman dahulu kala ada pekerja yang singgah disana. Mereka mengambil buah huni dan ingin membuat rujak. Akan tetapi Mereka tidak memiliki coet (cobek) untuk mengulek rujak.   Tak hilang akal, Mereka memahat batu besar yang ada disamping pohon huni. Dibuatlah dua buah lubang seukuran cobek. Jadilah Mereka membuat rujak dengan cobek alam tersebut. Dari legenda itulah lokasi tersebut dinamakan Kampung Cihuni. Sampai sekarang Batu Coet itu masih ada di kampung Cihuni, walaupun pohon huninya sudah tak ada lagi.  
Gunung Tebing Parang Via Ferrata dan Kampung Cihuni

Kehidupan Warga

Tepat di sebelah Timur Batu Coet terdapat sebuah Madrasah Ibtidaiyah Cihuni (MI, setingkat SD). Sekolah yang sederhana dengan murid yang selalu bersemangat belajar. Tak berapa jauh dari MI terdapat sebuah Masjid Jami’ sebagai sarana ibadah bagi 874 orang penghuni kampung.   Pada bulan Maret – April saban tahun, mayoritas Warga Cihuni yang bekerja tani sawah mulai melakukan panen. Padi menguning tumbuh subur di sawah-sawah bertingkat. Dengan view Tebing Parang dan Waduk Jatiluhur, petani akan merontokkan gabah memakai alat sederhana. Suara padi yang dirontokkan terdengar serasi dengan dentingan genta kerbau dan kicauan pipit yang beterbangan.   Masyarakat kampung Cihuni penuh inovasi, daya juang, dan semangat menjaga alam yang tak kalah dari masyarakat kota.  Keunikan dan kearifan lokal jadi modal hidup bisa dijadikan contoh. Ajaran budaya sunda dan kebaikan dari leluhur tetap terjaga. Wibawa Karta Raharja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *