Konflik di Balik Indahnya Tebing Parang

Foto : Salah satu jalur di Tebing Parang tower 3

Jalur via ferrata tertinggi kedua di Asia Tenggara, menyebabkan sebuah kampung di Jawa Barat ramai dikunjungi wisatawan. Kampung tersebut bernama kampung Cihuni. 

 

Batuan andesit setinggi hampir 1000 meter diatas permukaan laut menjadi pemikat bagi wisatawan yang ingin memacu adrenalin melalui aktivitas panjat tebing. Tempat ini dikenal dengan nama Tebing Parang atau Gunung Parang. Lokasinya berada di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, RT 06/03 Kecamatan Tegalwaru Kabupaten Purwakarta Provinsi Jawa Barat.

Akses menuju Tebing Parang dapat dicapai melalui Plered atau Sukatani. Wisatawan yang memilih akses via Plered akan dihadapkan pada kondisi jalan yang berdebu, bergelombang dan berlubang, karena sebelumnya jalan ini digunakan bagi kendaraan besar untuk mengangkut hasil tambang. Jalannya memang cukup lebar dan sudah ada perbaikan di beberapa titik, namun wisatawan tetap harus waspada dan mengatur laju kendaraannya terutama saat melalui jalan rusak dan berbatu.

Berbeda dengan akses via Sukatani, wisatawan akan melewati perkampungan dan banyak persimpangan dengan kondisi jalan yang sempit dan rusak parah. Kondisi jalan tersebut seringkali membuat ban mobil wisatawan “terselip”. Jaraknya pun cenderung lebih jauh dibandingkan dengan melalui Plered, sehingga waktu tempuh yang dibutuhkan melalui jalan ini relatif lebih lama.

Objek wisata ini dikelola oleh beberapa provider. Namun secara garis besarnya, wisatawan yang berkunjung memiliki dua alternatif jika ingin melakukan pemanjatan di Tebing Parang, yaitu menggunakan jalur non komersial dan jalur komersial. Jalur non komersial merupakan jalur yang sudah ada sebelum Tebing Parang beralih fungsi menjadi obyek wisata. Jalur pemanjatan tersebut dibuat oleh Wanadri, Skygers dan mungkin juga dari organisasi penggiat alam lain yang difungsikan untuk latihan bagi orang-orang yang sudah memiliki skill pemanjatan. Mereka yang menggunakan jalur ini harus membawa perlengkapan pemanjatan secara mandiri.

Wisatawan yang belum memiliki pengalaman dapat menggunakan jalur komersial yang dikelola oleh setidaknya 4 provider pada tahun 2019, antara lain Skywalker Via Ferrata, Badega Cihuni-Gunung Parang, Badega Cirangkong-Gunung Parang dan Consina Parang Via Ferrata. Kegiatan populer yang ditawarkan adalah pemanjatan via ferrata, yaitu pemanjatan dengan menggunakan jalan besi. Masing-masing provider memiliki jalur via ferrata sendiri-sendiri. Bagi wisatawan yang ingin mencoba pemanjatan dengan menggunakan provider, tentunya ada beragam harga yang ditawarkan tergantung dari pilihan paket, jalur dan ketinggian. Jalur via ferrata tertinggi di Tebing Parang adalah 700 meter dan membuatnya menjadi via ferrata tertinggi kedua di Asia Tenggara.

Sebelum terkenal seperti saat ini, Tebing Parang dikelola oleh warga setempat dan karang taruna. Tidak ada biaya tiket masuk bagi pengunjung atau wisatawan yang akan melakukan aktivitas pemanjatan di Tebing Parang. Namun setelah Tebing Parang dikelola secara profesional, ada biaya retribusi yang harus dibayarkan oleh wisatawan berkisar antara Rp. 5.000 hingga Rp. 25.000. Dengan biaya tersebut, wisatawan dapat menikmati keindahan alam beserta fasilitas kamar mandi yang bersih dan listrik yang berada di warung bawah.

 

Apakah pengelola lokasi wisata ini turut serta memajukan kesejahteraan warga sekitar?

Pak Suhendar, salah satu warga Cihuni mengatakan bahwa tidak ada keuntungan yang dirasakan oleh warga sekitar Badega. Warga merasa tidak ikut andil dalam memajukan objek wisata tersebut. Selain itu, mayoritas pekerjaan warga bukan berasal dari pariwisata, melainkan menjadi petani dan kuli bangunan.

“Dari awal Badega berdiri, ada warga yang dilibatkan, Namun seiring berjalannya waktu, keuntungan bagi warganya nol besar” ucap Pak Suhendar.

Foto : Saat melakukan wawancara dengan Pak Wawan, ketua RW kampung Cihuni.

Warga juga merasa di rugikan saat kemarau tiba. Pasalnya, Badega menarik air sumur yang biasa digunakan warga menjadi milik pribadi sehingga warga sekitar kesulitan air saat kemarau. Namun, kesulitan ini dapat diantisipasi oleh warga dengan membangun saluran air bersama Teddy Ixdiana, seorang penggiat yang aktif di bidang pemanjatan.

Sejalan dengan pernyataan Pak Suhendar, warga lainnya yaitu Ibu Fatimah menjelaskan bahwa alasan warga sekitar tidak bekerja di Gunung Parang karena insentif yang diberikan tidak terlalu banyak. Warga memilih untuk bekerja sebagai kuli karena penghasilan yang di dapatkan lebih besar dibandingkan dengan terjun ke bidang pariwisata. Selain itu, masih banyak orang tua yang tidak tahu menahu dan tidak mengerti tentang adanya pembukaan Badega Gunung Parang. Ibu Fatimah dan warga lainnya juga merasa terganggu dengan kegaduhan pada malam hari yang menyebabkan warga tidak bisa beristirahat.

“Setelah Badega dibuka, karang taruna sempat protes karena kenyamanan dari warga sekitar terganggu. Ada acara malam hari dan menggunakan sound system yang terlalu keras, menyebabkan kami  tidak bisa beristirahat” ujar Ibu Fatimah.

Wawan Lukman Hidayat selaku ketua pengelola Badega Gunung Parang sekaligus warga Cihuni, memberikan pernyataan yang berbeda. Menurutya, Badega Gunung Parang merupakan kelompok warga yang didirikan oleh 27 orang pada 2013. Kelompok ini melihat potensi dari Gunung Parang yang sudah banyak dikunjungi sebelumnya. Harapannya, dengan adanya Badega maka pariwisata ini bisa dikembangkan secara profesional dan apik.

“Badega merupakan kelompok warga yang artinya Badega adalah perkumpulan milik warga, bukan aset pribadi. Badega merangkul warga sekitar, walaupun belum semua.Tujuannya menjadikan Gunung Parang sebagai ekowisata. Badega sudah menjadi contoh bagi objek wisata lain untuk mulai mengepakan sayapnya dibidang ekowisata” ujarnya.

Badega tidak ingin salah satu kekayaan alam di Purwakarta ini jatuh kepada investor asing yang akhirnya justru menyengsarakan seluruh warga. Keuntungan adanya Badega mungkin belum dirasakan secara merata, namun warga yang berjualan cukup diuntungkan dengan adanya wisatawan yang membeli dagangan mereka. Bagi Wawan, masalah warga dirugikan atau tidak menurutnya relatif tergantung sudut pandang masing-masing orang. Jika warga mau ikut bekerjasama, maka akan ada income yang diberikan.

Wawan menambahkan, “Untuk masalah air sumur, memang pihak Badega menarik air sumur, namun hanya dua titik. Kampung Cihuni ini memang mempunyai debit air yang sedikit maka dari itu warga sering kekurangan air”. 

Foto : Pemandangan dari jalur pemanjatan, terlihat mesjid yang diberikan bantuan oleh pengelola Badega.

Uang retribusi bagi lingkungan sekitar memang tidak dipatok harga, namun Badega juga sering memberikan bantuan jika diminta oleh warga. Salah satu contohnya saat pembangunan masjid. Pihak Badega turut serta memberikan bantuan sejumlah uang. Keterangan Wawan ini dibenarkan oleh Haji Hasan selaku ketua RW 06, bahwa ada uang yang masuk dari pihak Badega untuk sumbangan pembuatan masjid senilai Rp. 500.000.

Lahan yang digunakan oleh Badega merupakan lahan gabungan milik sekelompok warga Desa Sukamulya yang berjumlah 27 orang dan sebagian lagi merupakan tanah milik perhutani. Ada bagi hasil untuk keuntungan yang diperoleh.

Pengelolaan sektor pariwisata memang bukan hal yang mudah dilakukan. Masyarakat, pemilik modal hingga pemerintah sebaiknya turut serta dalam menyelesaikan konflik sebelum meruncing. Kita bisa belajar dari kasus yang ada sebelumnya di sektor wisata, misalnya  konflik yang terjadi di Goa Pindul. Semoga kehadiran destinasi wisata Tebing Parang pada akhirnya dapat memberikan dampak positif bagi berbagai pihak.

  • Penulis      : Widyani Galih Pangersa
  • Fotografer : Noviandra Mi’raj
  • Editor       : Gina AWP

*setiap isi artikel sepenuhnya tanggung jawab penulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *