Roadtrip Bermodus Mudik, Perjalanan Tiga Jalur Pulau Sumatera

Penulis: Azhari Fauzi

Terdapat tiga ruas jalan utama yang membelah Pulau Sumatra; lintas barat, tengah, dan timur. Masing-masing menyuguhkan keindahan dan tantangan yang berbeda. Pada dua kali kesempatan saya mudik tahun 2017 dan 2018, saya mencoba tiga ruas yang membujur sejauh lebih kurang 3.000 kilometer dari Lampung hingga Aceh itu.

 

Roadtrip Pertama

Awal Juni 2017, teman masa SMA yang sama-sama merantau ke ibukota melontarkan niatnya untuk mudik Lebaran menggunakan mobil pribadi. Niat yang seketika terdengar sangat menarik, karena 10 tahun berturut-turut ritual pulang kampung dilakukan menggunakan transportasi udara. Terbayang sebuah “roadtrip” seru puluhan jam menjelajah lintas Sumatra dengan melewati banyak spot menarik, yang bisa dinikmati sambil mengeksplorasi dan wisata kuliner. Jika menaiki pesawat, jarak ini bisa dituntaskan dalam hitungan tak lebih dari 90 menit. Nyaris membosankan bagi yang sudah biasa.

Menggunakan dua minibus, perjalanan darat Jakarta-Bukittinggi dimulai malam hari pada 21 Juni 2017. Kala itu sudah memasuki penghujung Ramadan, iringan kendaraan bergerak dari kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, melalui tol dalam kota hingga ke Pelabuhan Penyeberangan Merak-Bakauheni di Banten. Tiket seharga 374 ribu rupiah untuk satu mobil beserta orang dan barang telah dibeli beberapa hari sebelumnya melalui daring, sehingga mempersingkat proses naik ke kapal feri. Ini sebuah kemajuan, karena berdasarkan informasi yang diterima, sistem ini pertama kali diuji coba pada tahun itu.

Kendaraan minibus memasuki tanah Sumatra tepat ketika azan Subuh berkumandang. Kami mencari masjid terdekat untuk salat Subuh, sekaligus menjadi titik pergantian pengemudi untuk setiap kendaraan.

Suasana kontras dengan Pulau Jawa cukup terasa. Jalanan aspal di sisi selatan Sumatra ini seperti jauh tertinggal. Bergelombang, banyak lubang menganga, serta lebar badan jalan yang pas-pasan. Belum lagi harus berhadapan dengan truk atau bus-bus beragam ukuran. Julukan “sopir lintas Sumatra” yang acap dikonotasikan dengan kelihaian seseorang dalam mengemudi bisa jadi benar, mengingat ragam tantangan dan risiko yang harus diatasi.

Gambar.1 Jalur lintas Sumatera

Gawai yang dimanfaatkan sebagai alat bantu bernavigasi selama melintasi jalur Sumatera, mengarahkan kami menuju Kotabumi. Artinya, konvoi akan melewati ruas jalan lintas tengah (jalinteng), yang konon dikenal cukup “angker“. Jalan lintas di Lampung ternyata cukup panjang. Butuh waktu dari pagi hingga menjelang Magrib sebelum akhirnya memasuki gerbang perbatasan Sumatra Selatan.

Jika dilihat di peta, jalinteng ini persis berada di sabuk Bukit Barisan yang membelah Sumatra dari utara ke selatan. Karenanya, selain kontur naik turun dan berkelok, kita juga akan disuguhkan dengan pemandangan hutan hujan Swarnadwipa yang masih tersisa. Setidaknya pada perjalanan berjarak tempuh 1.400 kilometer ini terdapat dua taman nasional yang dilalui, yakni Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Provinsi Lampung serta Taman Nasional Bukit Dua Belas saat memasuki Provinsi Jambi hingga menjelang perbatasan Sumbar.

Beberapa asumsi negatif mengenai jalur ini, seperti jalan yang rusak parah dan rawan aksi bajing loncat ternyata tidak sepenuhnya benar. Pada segmen yang terkenal paling rawan di daerah Lahat, kami lalui dini hari nyaris tanpa rasa khawatir. Jalanan yang sudah relatif baik sehingga mobil bisa melaju dan terdapat beberapa Pos Penjagaan Polisi yang semakin menambah rasa aman. Kami tiba di Bukittinggi setelah 44 jam berkendara dari Jakarta.

 

Roadtrip Kedua

Gambar.2 Jalur lintas Barat Sumatera

Setahun kemudian, 8 Juni 2018, keseruan mudik ala roadtrip ini kami ulangi. Bedanya, tahun ini jumlah personil yang bergabung bertambah menjadi sebelas orang. Berangkat menggunakan tiga unit minibus dari Jakarta, jalan lintas barat kali ini menjadi pilihan. Informasi awal yang diterima, ruas ini merupakan jalur yang paling sepi, banyak segmen yang rusak, rawan longsor, namun memiliki pemandangan paling indah. Bayangan tersebut tentu semakin menggugah rasa antusias para anggota rombongan yang satu pun belum pernah melalui jalur ini.

Dari Kota Bandar Lampung, perjalanan menuju ke Liwa dan masuk ke jalur utama menuju Krui. Jalinbar terletak bersisian dengan Samudera Hindia nan indah tapi jarang terekspos, sehingga terdapat banyak sekali spot instagramable yang dapat disinggahi.

Perjalanan kali ini lebih santai. Setibanya di kota Bengkulu, seperti yang sudah direncanakan, kami menginap di sebuah homestay tak jauh dari pusat kota. Waktu senggang dimanfaatkan dengan berplesir ke beberapa lokasi ikonik bumi raflesia, seperti Benteng Fort Marlborough dan rumah pengasingan Bung Karno.

Gambar.3 Benteng Fort marlborough

Di benteng Fort Marlborough, kami disuguhkan dengan sisa kejayaan masa lampau Bengkulu yang pernah tersohor sebagai kota perdagangan penting di pantai barat Sumatra. Rempah, kopi, dan beras menjadi komoditas unggulan yang dahulu banyak diekspor ke pasar Eropa dan Amerika. Benteng sendiri dibangun oleh kolonial Inggris di bawah pimpinan Gubernur Joseph Callet pada rentang tahun 1714-1718.

Dari catatan yang tertulis di salah satu sudut museum, diketahui bahwa ketika itu Inggris melalui EIC (East India Company) mendirikan basis ini untuk memperkuat pertahanan melawan VOC Belanda, menghadapi rakyat Bengkulu yang memberontak, sekaligus sebagai kamp tawanan. Konon, bangunan ini merupakan benteng terkuat kedua Inggris di timur, setelah benteng St. George di Madras, India.

Perjalanan kemudian berlanjut menyusuri aspal mulus menuju Ketahun. Di sisi jalan, terlihat banyak rumah adat atau rumah tua peninggalan masa lampau. Memasuki daerah Muko-muko pada dini hari, ditandai dengan banyaknya sapi yang berkeliaran di sepanjang jalan. Salah satu mobil sempat menabrak sapi yang tiba-tiba menyeberang jalan. Beruntung sapi tersebut tidak cedera, sementara mobil yang menabrak hanya sedikit penyok pada bagian bumper depan.

Perjalanan berlanjut, untuk kemudian santap sahur di Painan. Karena salah satu mobil bermasalah dengan sistem pengereman, kami menyempatkan mampir ke dealer di Padang untuk memperbaiki mobil agar lebih nyaman dikendarai menuju Bukittinggi yang berjarak tak lebih dari 100 kilometer lagi. Saya tiba di rumah setelah 75 jam perjalanan.

 

Roadtrip Ketiga

Dua kali perjalanan darat dari Bukittinggi ke Ibukota dilalui lewat jalur lintas timur (jalintim). 3-4 Juli 2017, lintasan ini berhasil ditamatkan dalam tempo 38 jam. Jalur ini lebih cepat dibanding barat atau tengah, padahal kondisi jalan relatif lebih rusak, bergelombang, dan banyak truk sehingga harus berkendara ekstra hati-hati. Kecepatan mobil pun rata-rata hanya bisa dipacu hingga 85 Km/jam.

Kami sempat dibuat nyasar saat menuju Tempino (Jambi) karena mengikuti arahan dari Google Maps. Tak ada pilihan lain, mobil harus berbalik arah puluhan kilometer sebelumnya akhirnya kembali menemukan ruas utama jalur lintas timur.

Saat memasuki Kota Palembang, juga terlihat kota ini sedang bersolek dengan pembangunan MRT (Mass Rapid Transit) beserta banyak prasarana lain karena akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. Jalanan cukup menarik saat memasuki lintas pantai timur yang menghubungkan Menggala dengan Pelabuhan Bakauheni. Ruas ini berupa jalanan mulus dengan pemandangan menawan, melipir di sisi barat Taman Nasional Way Kambas, hingga tiba tak jauh dari gerbang Pelabuhan Bakauheni. Bagi pengendara yang ingin menghindari ruwetnya jalur utama via Kotabumi, mengambil jalan alternatif ini merupakan pilihan tepat.

Gambar.4 Menuju kota Palembang

Tahun ini, butuh waktu 74 jam melewati jalur yang sama. Waktu tempuh nyaris dua kali lipat ini karena menyempatkan untuk menginap dan city tour di Palembang. Kondisi jalan secara umum belum jauh berubah dibanding tahun lalu.

Di Bumi Sriwijaya kami menyempatkan untuk menikmati pergantian sore ke malam di Benteng Kuto Besak, sambil menyaksikan geliat di bawah kerlip Jembatan Ampera. Setelah tenaga dirasa cukup pulih, mampir menikmati kuliner pempek dan es kacang merah di gerai Vico yang tersohor menjadi pilihan yang tak boleh dilewatkan. Perjalanan selanjutnya memasuki daerah Lampung hingga Jakarta relatif sama dengan kondisi pada tahun lalu.

Alhamdulillah, seluruh rangkaian perjalanan mudik darat dua tahun berturut-turut ini dapat dilalui tanpa kendala serius. Mobil tak mengalami masalah berarti, di perjalanan pun lancar yang membuat ketagihan.

Begitulah, dengan mengendarai kendaraan pribadi melewati jalur darat setidaknya kita bisa sambil berwisata menikmati keindahan sajian alam dan budaya di daerah yang dilalui, mempererat silaturahmi dengan rekan seperjalanan. Dan tentunya dengan biaya yang jauh lebih irit dibandingkan menggunakan moda transportasi lain.

Saya berharap bisa melanjutkan tradisi mengasyikkan ini pada waktu-waktu yang akan datang.

Ada yang tertarik bergabung?

2 thoughts on “Roadtrip Bermodus Mudik, Perjalanan Tiga Jalur Pulau Sumatera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *