Menelisik Geliat di Perbatasan Timor

Fulan Fehan

Penulis: Azhari Fauzi

Panas terik sekejap menyapa saat saya baru saja mendarat di Bandar Udara A. A. Bere Tallo, Atambua, Kabupaten Beru, Nusa Tenggara Timur, pada 16 Agustus 2017 silam. Kabupaten yang berada di sisi paling timur Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, ini merupakan titik awal sebelum masuk lebih jauh ke lokasi penugasan kali ini. Tujuan utama saya adalah Timor Tengah Utara dan Malaka, dua kabupaten yang sebelumnya asing di telinga. Kunjungan terakhir saya ke NTT adalah pada 2013 lalu, saat saya menyisir dan bergaul dengan masyarakat selama sebulan penuh di sudut-sudut Pulau Alor, Sabu Raijua, Rote Ndao, Sumba Timur, Komodo dan Labuan Bajo.

Di pelataran bandara, minibus travel telah menjemput saya dan rekan. Kami menyempatkan diri mengisi perut di rumah makan milik masyarakat setempat. Mobil bergerak ke barat menjauhi Belu. Butuh waktu dua jam melintasi jajaran kebun lontar dan perbukitan gersang sebelum akhirnya tiba di Kota Kefamenanu, Ibukota Timor Tengah Utara (TTU). Supir menganjurkan kami menginap di Livero, sebuah hotel berlantai empat yang cukup nyaman dan bersih di lokasi yang jarang dikunjungi pendatang.

Keesokan paginya, saat berbincang sambil sarapan, seorang pegawai hotel menanyakan tujuan kami hari itu. Mendengar lokasi yang menurutnya saling berjauhan dan minim transportasi umum, ia kemudian menyarankan kami untuk menyewa mobil saja. Tarif sewa mobil di Kefa biasanya lebih murah dibandingkan Atambua atau Kupang. Hitung-hitung, dengan kendaraan yang bisa dibawa sesuka hati, kami bisa merasa seolah sedang melakukan roadtrip di pulau yang berabad silam terkenal sebagai penghasil cendana putih ini.

Bersama masyarakat adat Femnasi
Gambar.1 Bersama masyarakat adat Femnasi

Hidup dari Tani, Tenun dan Wisata

Tiga kabupaten yang saya singgung sebelumnya; Belu, Timor Tengah Utara dan Malaka, adalah beranda depan Indonesia yang berbatasan dengan Republik Demokratik Timor Leste. Layaknya perbatasan yang selama puluhan tahun seakan jadi anak tiri, masalah umum yang dihadapi daerah ini juga tak jauh berbeda. Masih seputar keterisolasian, keterbelakangan, kemiskinan, harga barang dan jasa sangat tinggi, keterbatasan prasarana dan sarana pelayanan publik (infrastruktur), kualitas SDM yang pada umumnya rendah, serta penyebaran penduduk yang tidak merata.

Sebelum era 2000-an, banyak orang yang membuat plesetan NTT menjadi “Nanti Tuhan Tolong” atau “Nasib Tidak Tentu”. Sebuah paradoks, yang barangkali memang tak salah-salah amat untuk menggambarkan kondisi faktual harian masyarakat. Imaji kepasrahan pada situasi sulit ini melekat sekian lama, hingga seolah menjadi takdir yang harus dipikul bagi komunitas yang terhimpun atas sedikitnya 40 kelompok etnolinguistik ini.

Saat berbincang dengan Kepala Bappeda Malaka Alfonsius Manek di Betun, dengan penuh semangat ia menyampaikan program pemerintah kabupaten bertajuk Revolusi Pertanian Malaka (RPM) yang bekerjasama dengan mitra terkait, grand-design RPM perlahan diwujudkan. Komoditas unggulan seperti pisang, jagung, bawang merah, kacang hijau, dan ikan bandeng coba dioptimalkan produksinya dan dibuatkan alternatif pengolahan paska panen agar masyarakat mendapat harga yang lebih menguntungkan. Pemerintah memberi insentif dan bantuan modal bagi penggerak pertanian, serta menggalakkan gerakan one village one product demi meningkatkan pendapatan kabupaten.

Saya kemudian menemui Mama Maria Yovita Beta (62 tahun) di toko Biboki Artshop yang terletak tak jauh dari Pasar Kefa. Melalui Yayasan Tafian Pah yang didirikannya tahun 1990, Mama Yovita memiliki cita-cita mulia untuk melestarikan tenun lokal sembari memberdayakan perempuan Timor yang memiliki kemahiran menenun. Ia menceritakan bahwa tenun Biboki yang digelutinya memiliki banyak sekali jenis, meliputi 46 jenis tenun ikat, 20 jenis tenun Buna, dan 5 jenis tenun Sotis. Berkat kegigihannya dalam berjuang dan mempromosikan budaya warisan leluhur ini jualah kemudian ia berkesempatan diundang sebagai tamu kehormatan atau exhibitor pameran kerajinan di berbagai negara. Australia, Belanda, Korea, Jerman, dan Filipina adalah beberapa negara yang pernah beberapa kali dikunjunginya.

Pada awal era 2000-an, Mama Yovita juga mendapat pendampingan dari lembaga internasional OXFAM dan tergabung dalam proyek TIRD (Timor Integrated Rural Development). Puas berbincang, saya kemudian memoto koleksi artshop untuk kemudian diunggah ke media sosial. Tak dinyana, beberapa kawan sontak menyatakan ketertarikannya pada tenun dan meminta untuk dibawakan ke Jakarta. Jadilah, saya membawa pulang setidaknya 15 helai tenun otentik TTU berbagai motif dan ukuran.

Wini, salah satu pos perbatasan Indonesia-Timor Leste
Gambar.2 Wini, salah satu pos perbatasan Indonesia-Timor Leste

Terletak di sekitar garis imajiner Wallacea, membuat Timor memiliki lanskap alam yang unik dibandingkan daerah lain di Indonesia. TTU, daerah yang terbentuk atas gabungan kerajaan Miomaffo, Insana, Biboki memiliki aneka destinasi alam, budaya, dan sejarah yang mengagumkan. Saya menyambangi kampung adat Femnasi dan Maubesi, menghirup wangi pesisir utara Timor di Oesoko serta melihat geliat pembangunan perbatasan di Wini. Sedang ketika di Malaka, saya blusukan ke sentra pengrajin gerabah di Webriamata, Lakekun, pos lintas batas Motamasin dan menyaksikan keelokan hutan mangrove Cagar Alam Hasan Maubesi. Masing-masing objek ini hadir dengan pesonanya yang sulit dilukiskan dan dicarikan tandingannya.

Setelah 10 hari berada di tanah Timor, tiba waktu kembali ke ibukota karena “surat jalan” dari kantor sudah berakhir dan laporan harus segera disusun. Dari persentuhan singkat ini, selain membuat saya semakin mengenal negeri Nusa Cendana, juga membangkitkan kembali keoptimisan melihat geliat-geliat yang coba dilakukan, dari masyarakat, pemda hingga pemerintah pusat. Semoga slogan Nawacita “membangun Indonesia dari pinggiran,” yang seringkali didengungkan Presiden Jokowi dan jajaran kabinetnya betul-betul dapat dirasakan perubahan nyatanya. Karena kita, satu Tanah Air jua!

Rute NTT yang dilalui selama 10 hari
Gambar.3 Rute NTT yang dilalui selama 10 hari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *