Berbekal Mi Instan Saat Mendaki Gunung, Cukupkah?

Penulis: Tim Redaksi 1964 Trovical Voyage

Foto Utama: Worldlifetravel/Bima Prasena

 

Menurut data World Instant Noodles Association (WINA) konsumsi mi instan di Indonesia mencapai 14,8 miliar bungkus pada tahun 2016. Angka tersebut menjadikan Indonesia penikmat mi instan terbesar kedua setelah Cina. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat menggemari mi instan. Tak terkecuali para pendaki gunung.

Dari beberapa pendakian yang dilakukan Tim Redaksi 1964, kami melihat banyak pendaki gunung yang menjadikan mi instan sebagai menu andalan pendakian. Meskipun banyak juga yang lebih memilih makanan pokok lain sebagai menu dan menjadikan mi instan hanya sebagai menu cadangan.

Dari beberapa wawancara (baca: ngobrol) kami dengan beberapa pendaki yang menjadikan mi instan sebagai menu andalannya, jawaban mereka umumnya sama: mi instan dianggap makanan yang tidak merepotkan, cepat saji, beban ringan, dan tentunya enak. Hal itulah yang membuat mereka menjadikan mi instan sebagai menu andalan dalam pendakian.

Kendati demikian, apakah alasan-alasan itu sudah tepat? Mari kita uraikan.

 

Kalori Mi Instan

Kalori menjadi objek utama saat kita melihat kandungan gizi pada makanan. Kalori merupakan sumber energi yang membuat kita dapat bergerak serta tubuh menjalankan metabolisme.

Kandungan kalori pada satu bungkus mi instan umumnya mencapai 320-460 kkal. Sedangkan kandungan gizi lainnya di antaranya karbohidrat 66 gram, protein 7-9 gram, natrium 900 gram, dan kini mi sudah dilengkapi dengan vitamin.

Selagi mi instan sudah mendapat cap aman dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), sebetulnya mi instan aman untuk dikonsumsi. Namun tetap jangan berlebihan, apalagi menjadikan mi instan sebagai makanan utama. Mi instan, bagaimanapun, dibuat sebagai makanan pengganti atau cadangan.

Sambil istirahat makan mi instan (Foto: Worldlifetravel)

Kebutuhan Kalori Pendaki

Manusia membutuhkan kalori harian 1800-2500 kkal, namun untuk kegiatan berat seperti mendaki gunung tentunya kebutuhan kalori meningkat. Perlu dicatat, setiap orang memiliki kebutuhan kalori yang berbeda.

Kita bisa menghitug kebutuhan kalori sehari-hari maupun saat mendaki dengan rumus Basal Metabolic Rate (BMR). Secara singkat, rumusnya berupa berat badan dikali 24 kalori ditambah kelipatan BMR.

 

 

Nilai BMR berdasarkan aktivitas:

Aktivitas sangat ringan (tidur, menonton, menulis, dst): BMR+30%

Aktivitas ringan (menyapu, mencuci piring, memasak, dst): BMR+50%

Aktivitas sedang (mencangkul, memahat, dst): BMR+75%

Aktivitas berat (menebang pohon secara manual): BMR+100%

Aktivitas berat sekali (mendaki gunung, menarik gerobak, dst): BMR+120%

Misal:

Berat badan 60 kg. Maka, 60 x 24 = 1440 kkal

1440 kkal x 120% = 1800 kkal.

Total: 1440 + 1800 = 3240 kkal.

Jadi seorang pendaki dengan berat badan 60 kg mebutuhkan kalori sebanyak 3240 kkal.

Jawabannya jelas mi instan tidak cukup memenuhi kebutuhan kalori saat mendaki, ya. Kebutuhan kalori yang tinggi tersebut tidak dapat dipenuhi hanya dengan satu bungkus mi instan.

 

Sebaiknya

Makanlah makanan pokok seperti nasi dengan jumlah yang tepat untuk memenuhi kalori sehingga tidak mudah lelah saat mendaki. Tambahan kalori bisa didapat dari cokelat, gula merah, sereal, biskuit, dan makanan bernilai karbohidrat tinggi lainnya. Variasikan dengan makanan lain seperti ikan, sayuran dan buah-buahan yang memiliki banyak gizi.

Jadikanlah mi instan sebagai makanan cadangan, jika di waktu tertentu kehabisan makanan sementara pendakian belum selesai. Atau bisa juga dengan menjadikannya sebagai menu hiburan, yakni menu penghilang kebosanan saat malam hari berkumpul di depan api unggun.[]

 

Dari berbagai sumber

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *