Denyut Indonesia Bagian Timur

Penulis: Azhari Fauzi

Berdasarkan jadwal, tugas saya di Kasonaweja, Mamberamo Raya, telah selesai. Selanjutnya, saya harus berpindah ke Kobakma, Kabupaten Mamberamo Tengah, yang jika dilihat pada peta berada persis bersisian. Namun, sewajarnya kondisi di pedalaman Papua, tidak ada moda transportasi langsung yang dapat membawa saya dari Kasonaweja ke Kobakma ini. Pilihannya hanya satu, kembali ke Sentani, lanjut penerbangan ke Wamena, untuk kemudian menempuh jalur darat yang konon baru saja dibuka beberapa bulan terakhir.

Rabu pagi 11 September 2017 itu, saya mendatangi bandara Kasonaweja untuk menanyakan jadwal dan harga tiket. Inilah keunikan lain penerbangan dengan pesawat perintis di provinsi paling timur Indonesia ini. Boro-boro online, segala aktifitas booking dan pembayaran tiket hanya dapat dilakukan secara langsung dan tunai. Petugas dapat menentukan pada harga berapa akan menjual tiket, tergantung jumlah dan permintaan penumpang. Setelah sedikit nego, saya dan Dion kebagian tiket Alda Air seharga 3,4 juta rupiah per orang yang akan menerbangkan kami menuju Sentani pada pukul 13.30 WIT.

Kami kembali ke rumah Pak Robert, tempat menumpang tinggal selama di Kasonaweja, untuk berkemas dan pamitan. Diam-diam, ternyata Mama Dian, sang nyonya rumah, sudah menyiapkan beberapa noken untuk dibawa. Sebuah kejutan yang tulus, karena kami tak mengetahui kapan beliau merajutnya. Saya pamit penuh haru pada Pak Robert, Mama Dian, Pak Oky, Pak Isak, dan beberapa rekan lain yang telah ikut mendukung kelancaran tugas di tempat yang tadinya sama sekali asing ini.

Pukul 14.30 WIT, pesawat caravan berkapasitas 10 orang mendarat mulus di Bandara Sentani. PR berikutnya adalah memastikan transportasi serta akomodasi yang dapat digunakan di lokasi kedua penugasan, yakni Mamberamo Tengah.

Hari berikutnya, tiket menuju Wamena baru kami peroleh dua hari setelah kedatangan kembali di Sentani karena dadakan. Artinya, ada waktu luang satu hari yang dapat digunakan untuk recovery sambil mematangkan rencana dan memenuhi kebutuhan di lokasi kedua. Dengan menyewa minibus, saya dan Dion menyempatkan berkunjung ke Danau Love, Pasar Seni Hamadi dan menyicip kenikmatan kopi asli Papua di kafe Pit’s Corner Jayapura. Penginapan kami malam itu cukup nyaman, terletak bersisian dengan Teluk Youtefa yang termahsyur keindahannya.

Gambar.1 Bandara Wamena

Jumat siang kami sudah standby kembali di ruang tunggu Bandara Sentani guna menanti pesawat Wings Air yang akan terbang ke Wamena. Saya cukup senang, sebab keberangkatan sesuai dengan yang dijadwalkan. Jalur udara Jayapura – Wamena ini adalah salah satu paling mengesankan, sebab dari jendela pesawat Twin Otter kita dapat menyaksikan kemegahan rimba Pegunungan Tengah Papua yang hijau, dengan tebing menjulang tinggi ratusan meter dan kemudian membentang seolah tiada ujung. Wamena adalah salah satu akses utama sebelum masuk ke daerah-daerah terpencil di Pegunungan Tengah.

Rabu, 13 September 2017, kami tiba di bandara Wamena. Terlihat aktifitas bandara dan kota cukup sibuk. Bahkan, banyak diantaranya wisatawan mancanegara (wisman) yang mulai berdatangan semenjak Festival Lembah Baliem gencar dipromosikan beberapa tahun terakhir. Belakangan, setelah ngobrol dengan salah satu staf di Hotel Baliem Pilamo tempat kami menginap, kedatangan wisman ini ternyata nyaris sepanjang waktu. Destinasi yang menjadi favorit antara lain Danau Habema, kampung adat Suku Dani, atau bagi yang suka petualangan biasa melakukan trekking ke sekitar Gunung Trikora (4.750 mdpl).

Melihat daya tarik alam dan budaya yang begitu mempesona, bukan tak mungkin dalam beberapa waktu ke depan Wamena akan jadi primadona di Bumi Mutiara Hitam Papua. Dengan catatan, harus terjadi sinergi, political-will yang terarah dari pemerintah pusat dan daerah, yang ditunjang dengan penguatan kapasitas masyarakat lokal agar siap menjadi tuan rumah bagi industri wisata yang dalam banyak survei diprediksi akan segera booming ini.

Semenjak 2015, Bandara Wamena yang tadinya hanya sedikit lebih bagus dari “kandang ayam” telah disulap menjadi bangunan yang megah dan resik. Prasarana pendukung juga terus dilengkapi guna membuat nyaman pengunjung yang jumlahnya terus menunjukkan peningkatan. Sebuah langkah awal yang berani, mengingat kota ini memang hanya bisa diakses lewat jalur udara dari kota-kota besar Papua lainnya. Jalan darat yang direncanakan menghubungkan Jayapura ke Wamena, serta jalur Trans Papua yang mengkoneksikan Merauke hingga Sorong masih dalam tahap pengerjaan.

Setidaknya, ini adalah salah satu bentuk keseriusan pemerintahan dalam mengejar ketertinggalan dan “pembiaran” selama puluhan tahun. Selain bandara dan jalan, pemerintah juga gencar melakukan pembangunan infrastruktur transportasi lain dengan harapan dapat menekan ongkos logistik kita yang konon lebih mahal 2,5 kali lipat dibanding Malaysia dan Singapura. Dalam sebuah rilisnya, Presiden Jokowi menyebut menganggarkan 401 triliun rupiah pada tahun 2017 sebagai anggaran infrastruktur. Papua memperoleh persentase yang cukup besar dari jumlah ini.

Gambar.2 Distrik Ilugwa, pintu awal Kab. Mamberamo Tengah dari Wamena

Sentuhan pembangunan lain terlihat saat perjalanan dari Wamena menuju Kobakma. Tadinya, untuk mengakses ibukota kabupaten Mamberamo Tengah yang dimekarkan sejak 2009 ini harus menggunakan pesawat perintis dengan jadwal yang tak pasti. Kadang terbang sekali seminggu, sekali dua minggu, bahkan tak jarang tak ada penerbangan dalam sebulan. Masyarakat yang kurang mampu biasanya malah berjalan kaki selama 4 hingga 5 hari membelah hutan rimbun Pegunungan Jayawijaya untuk menjual hasil bumi atau keperluan lain di Wamena.

Bersyukur, sejak Februari 2017 jalan darat sepanjang 136 kilometer telah berhasil menghubungkan Kobakma dengan peradaban luar. Saat kami melintas dengan taksi Toyota Hilux berpenggerak ganda, terlihat kontur jalanan yang cukup ekstrem dan jurang dalam di sisinya. Pemda tengah merencanakan untuk melakukan pengerasan jalan dan memasang batas pengaman, untuk mengurangi angka kecelakaan atau mobil nyangkut karena takluk dengan lintasan offroad di tengah hutan primer ini.

Perjalan Wamena – Kobakma sore hari ditempuh dalam waktu 4 jam saja. Taksi berhenti di kompleks perumahan guru SMA Negeri 1 Kobakma, tempat Pak Guru Sirait, host kami, tinggal dan bekerja. Beberapa anak langsung mengerumuni dan membantu membawakan barang ke rumah. Ternyata mereka adalah para murid yang ikut tinggal bersama Pak Sirait. Setelah membersihkan diri, kami bercengkrama sambil menikmati kopi dan abon gulung.

Esok harinya, kami mendatangi Pendeta Paul Etherington. Ia adalah seorang misionaris dari Asia Pacific Catholic Mission (APCM) yang telah hidup dan membaur bersama masyarakat di Kobakma sejak tahun 1992.  Bapa Paul yang fasih berbahasa Indonesia bahkan bahasa lokal Nggem ini bercerita banyak hal, dari kondisi pemerintahan hingga kronik peradaban masyarakat Mamberamo Tengah. Saat pertama datang 25 tahun silam, ia mengaku mayoritas masyarakat asli hidup dalam kondisi memprihatinkan; terisolir, dengan derajat kesehatan dan pendidikan yang jauh di bawah standar.

Tak ayal, hingga beberapa tahun paska pemekaran, kabupaten ini tetap saja rutin menduduki posisi dengan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) peringkat bawah. Setelah akses darat ini dibuka, sebagaimana diutarakan oleh Kepala Bappeda saat kami temui di kantornya, diharapkan dapat ikut memacu perbaikan kualitas hidup terutama bagi masyarakat asli dari Suku Yali, Walak, dan Lani. Pembukaan akses ini juga telah mengundang sejumlah pendatang untuk kemudian memberikan pelayanan dalam bidang Pendidikan, Kesehatan, Keagamaan serta beberapa bidang lain yang menstimulus peningkatan kapasitas “orang gunung” di kawasan ini.

Gambar.3 Suasana Pasar Kobaka

Selain SDM, Mamberamo Tengah juga tengah berjuang memperbaiki perekonomian daerah. Dana Otsus, Dana Desa, dan berbagai rupa dana bantuan lainnya sedang direvitalisasi agar lebih tepat sasaran tanpa mengurangi produktifitas kerja masyarakat asli. Sejalan dengan itu, pemerintah daerah juga sedang menggenjot sektor pertanian dan wisata minat khusus sebagai lokomotif pendorong kemajuan ekonomi.

Agroekosistem yang unggul, dilengkapi dengan tingginya keragaman hayati serta keunikan budaya dan situs sejarah dapat dijadikan modal  bernilai fantastis jika dikelola secara terpadu. Tak lain, usaha-usaha ini dilakukan untuk segera membawa masyarakat Mamberamo Tengah segera berdaya dan sejahtera. Dalam konteks yang lebih luas, diharapkan pula kemudian dapat memperbaiki posisi kabupaten yang selama ini menjadi langganan sebagai daerah dengan laju pertumbuhan dan kontribusi terhadap PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terendah di Provinsi Papua. Kitorang harus maju terus, to!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *