Webtrip Series: Gunung Papandayan Garut

Oleh Redaksi 1964 Trovical Voyage

 

Di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini kasusnya makin meningkat, kami tahu pasti di antara kalian sudah ada yang tidak sabar ingin melakukan pendakian gunung. Memang sudah ada beberapa yang sempat membuka pendakian, dengan catatan mengikuti protokoler kesehatan Covid-19. Namun peningkatan kasus Covid akhir-akhir ini membuat banyak pihak merekomendasikan untuk menahan dulu kegiatan yang mempertumkan banyak orang dari berbagai wilayah.

Sambil bersabar sampai kondisi aman, kami mengajak kawan penjelajah untuk ikut dalam webtrip ala 1964 Trovical Voyage. Tujuannya, untuk kembali mengingat perjalanan bagi yang sudah menjelajahinya, untuk memberikan gambaran perjalanan bagi yang belum menjelajahinya, sekaligus menyemangati bahwa kita bisa melewati kondisi ini. Kali ini kita akan melakukan perjalanan web (webtrip) ke Gunung Papandayan.

Danau di antara lembah Gunung Papandayan

Gunung Papandayan yang memiliki ketinggian 2.622 mdpl berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Gunung ini menjadi destinasi pendakian favorit yang ada di Garut. Jalur yang relatif mudah, fasilitas lengkap dan banyak objek yang menarik seperti kawah, hutan mati dan padang edelweiss.

Perjalanan menuju Gunung Papandayan jika berangkat dari Jakarta sebaiknya berangkat dari Terminal Kampung Rambutan, karena bus menuju Garut cukup banyak dan 24 jam. Sedangkan jika berangkat dari Lebak Bulus, bus tidak terlalu banyak dan kondisi terminal tengah diperbaiki.

Perjalanan dari Terminal Kampung Rambutan memakan waktu 5 sampai 6 jam untuk tiba di Terminal Guntur, Garut. Di terminal ini biasanya sudah mulai ditemui banyak pendaki. Dari Terminal Guntur dilanjutkan menggunakan angkutan kota menuju pertigaan Pasar Cisurupan. Di sini pendaki bisa mencari kebutuhan logistik untuk pendakian.

Transportasi umum menuju titik awal pendakian dari Pasar Cisurupan sudah tidak ada. Pendaki bisa menyewa mobil bak terbuka yang banyak disewakan di sana. Jika tak punya rombongan bisa menggunakan ojek. Jangan lupa harus pintar menawar harga.

Setiba di titik awal pendakian atau Pos 1, disebut juga Camp David, pendaki melakukan registrasi sebelum memulai pendakian. Biaya registrasi di hari biasa 55.000 per orang, sedangkan di hari libur 65.000 per orang. Belum termasuk biaya parkir, ya.

Pendakian dimulai dari Pos 1 Camp David. Pendaki akan melewati banyak pohon cantigi yang berbaris di sisi jalur. Jalurnya landai dan tidak akan menyulitkan pendakian. Kemudian kawah aktif akan menyambut dengan pemandangan terbuka yang luas. Asap mengepul dari pusat kawah menjadi titik perhatian. Banyak pendaki yang menjadikannya spot berswafoto. Tak jarang juga ditemui pasangan yang tengah mengambil gambar prewedding.

Jalur yang dilalui setelah melewati kawah

Saat melewati jalur di kawah, gunakan masker karena aroma belerang bisa sangat menyengat. Selain itu tidak adanya pepohonan akan membuat sinar matahari menyerang langsung. Gunakanlah topi atau pelindung kepala lainnya.

Dari kawah, pendaki akan melintasi jalur di sisi punggungan dengan medan yang landai. Tak jauh dari situ ada bekas longsoran. Pendaki akan menuruni jalur dan menukan sungai kecil yang melintang. Airnya jernih dan segar.

Perjalanan mulai mendaki namun tidak terlalu terjal. Akan tetapi harus tetap hati-hati. Di sisi kanan jalur akan terlihat lembah dan pemandangan yang luas. Sebuah danau di bawah akan terlihat jelas dengan airnya yang jernih.

Setiba di Pos 2, pendaki bisa beristirahat sejenak. Di sana ada musala. Dari Pos 2, tak sampai 30 menit dengan berjalan santai, kita akan tiba di Pos Pondok Saladah. Di sini merupakan lapangan luas dengan pohon-pohon cantigi di sekelilingnya. Pendaki umumnya mendirikan tenda di sini. Pada hari libur Pondok Saladah akan penuh dan sedikit tempat yang tersisa untuk mendirikan tenda.

Selamat Datang di Pondok Saladah

Jika pendakian dilanjutkan, atau pada hari berikutnya, kita akan mendaki menuju Hutan Mati. Di sana banyak pepohonan tak berdaun yang sudah mati. Warna batangnya hitam akibat letusan tahun 2002. Hutan Mati menjadi favorit berswafoto, namun harus tetap hati-hati karena tanahnya rawan longsor.

Dari Hutan Mati kita akan mendaki lagi dengan medan yang lebih terjal. Sampai akhirnya tiba di Tegal Alun. Ini merupakan surganya edelwais. Di sana lapangan luas yang datar dan dipenuhi tanaman edelwais. Jika datang di musim berbunga, kita akan melihat sejauh mata memandang hanya bunga edelwais yang mekar.

Edelweiss yang mekar di Tegal Alun

Dari Tegal Alun kita bisa langsung turun ke Pos 1 Camp David, atau kembali berkemah satu malam di Pondok Saladah. Perjalanan kembali ke Jakarta menggunakan moda transportasi yang tidak jauh berbeda dengan perjalanan keberangkatan.

 

Estimasi Biaya Pendakian Gunung Papandayan

Kampung Rambutan – Terminal Guntur: 55.000/orang

Terminal Guntur – Pasar Cisurupan: 10.000-20.000/orang

Pasar Cisurupan – Camp David: (1) carter mobil bak terbuka 250.000/mobil, (2) naik ojek 25.000/orang (tergantung negosiasi)

Registrasi Pendakian: 55.000-65.000/orang

Biaya logistik sesuaikan kebutuhan masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *